Sabtu, 06 Juli 2013

Titik Dua Kurung Tutup



Tuhan, izinkan aku untuk mengungkapkan segala kerisauan yang sedang aku rasakan. Segala kegundahan yang sedang aku nikmati, dan kesakitan yang sedang aku syukuri. Izinkan aku menggunakan sedikit waktu luangku untuk sekedar menceritakan manusia Ciptaan-Mu yang sedang aku risaukan, yang membuat aku gundah, dan yang tanpa sengaja membiarkanku sakit.
Tuhan, aku tidak henti-hentinya berucap syukur atas segala yang telah Engkau berikan. Entah itu berupa kenikmatan yang tak terhingga tentunya, masalah, dan sakit seperti yang sedang aku coba untuk mendefinisikannya.
Tuhan, terima kasih karna beberapa bulan yang lalu, Engkau menjumpakan aku dengan salah satu manusia Ciptaan-Mu yang menurutku menarik daripada yang lain. Sebut saja, dia. Dia yang awalnya tidak aku kenal, bahkan tidak pernah aku temui sebelumnya tiba-tiba muncul dibawah langit ini. Di depan pandanganku tepatnya. Dia seseorang yang dengan kilat Kau hadirkan disela-sela pandanganku. Disela-sela pikiranku. Entah dalam waktu sekejap atau dibiarkan berlama-lama untuk tinggal. Aku kurang mengerti. Setauku, dia seseorang yang cukup ramah dan dia sosok yang menurutku berbeda dari yang lain.
Tuhan, ketika aku amati dia diam-diam, aku melihat secercah keindahan yang Kau titipkan padanya. Kurasa memang indah, Tuhan. Aku juga sangat paham, bahwa pada hakikatnya Engkau menciptakan seorang manusia lengkap dengan menyelipkan kelebihan disela-sela kekurangannya. Selalu seperti itu.
Tuhan, terkadang aku hanya bisa berangan untuk sekedar ingin mengenali sosoknya, so close more than this, God. Tuhan, salahkah anganku? Karna hanya aku yang tau bagaimana aku, bagaimana suasana hatiku, dan bagaimana aku menghibur diriku. Salah satunya dengan berangan seperti itu.
Sekolah, tempat dimana aku bisa leluasa melihatnya, memperhatikan gerak-geriknya atau sesekali menikmati senyumnya. Ketika aku meihat sosoknya ada tidak jauh dari aku berada, ada rasa yang mendesir perlahan dan perasaan yang tidak mudah aku sebutkan. Dia sosok yang jarang sekali aku tangkap ketika sedang berbicara dan lebih banyak diam ketika aku perhatikan. Disekolah pula, aku bisa mengalihkan perhatianku dengan fokus menatap papan bertuliskan tinta, media guru menyampaikan ilmunya. Disekolah pula lah aku bisa menghibur diri dengan caraku yang lain.
Disekolah, aku bisa melakukan apapun yang tidak bisa aku lakukan ketika dirumah. Ketika dirumah aku malah sering mengahbiskan waktuku dengan sepi atau dengan suasana yang mencekik. Disaat suasana berubah seperti itu, aku hampir tidak bisa untuk tidak memikirkannya. Dan itu sangat menyiksa, Tuhan..